Dalil Pendukung Jual-Beli dalam Islam

  • Rasulullah bersabda : ”Hendaknya kalian jujur, karena jujur dapat mengantarkan seseorang untuk berbuat baik, sedang perbuatan yang baik dapat mengantarkan seseorang ke surga. Seseorang tetap berbuat jujur hingga dia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur” (Shahih al Bukhari)
  • Diriwayatkan dari Abu Sa’id, dari Nabi SAW, beliau bersabda ”Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya (kelak di surga) bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan orang-orang yang mati syahid” (Hadits hasan sahih Tirmidzi)  
  • Diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam r.a dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : ’’Dua orang yang melakukan transaksi jual-beli boleh memilih, selama mereka berdua belum terpisah –atau beliau bersabda dengan redaksi hingga mereka berdua berpisah – jika mereka berdua jujur dan transparan, maka jual beli mereka akan diberkahi. Akan tetapi jika mereka dusta dan tidak terus terang, maka keberkahan jual beli mereka menjadi hilang (dicabut)’’ (Hadits Shahih al Bukhari)
  • Dari Abu Dzar ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda “Ada tiga orang yang Allah tidak akan melihat dan tidak akan mensucikan mereka pada hari kiamat, dan mereka akan mendapat siksa yang pedih.” Beliau mengulang ungkapan ini sebanyak tiga kali, lalu saya berkata, “Mereka akan kecewa dan merugi. Siapa mereka ya Rasulullah ?” Beliau bersabda ”Orang yang suka mencaci maki, orang yang suka mengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya disertai sumpah palsu.” (Hadits shahih Muslim)
  • Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih (Q.S Al Imran : 77)
  • Rasulullah bersabda ”Sumpah palsu bisa menambah hasil barang dagangan, akan tetapi menghapus berkahnya” (Shahih Ibnu Hibban)
  • Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS Al Ahzab :72)
  • Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS Ar Rahman : 9)
  • Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (QS Al Muthaffifin : 1-6)
  • Diriwayatkan dari ’Uqbah bin ’Amir, dia berkata ”Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, ’Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, seorang muslim tidak boleh menjual kepada saudaranya barang yang ada aibnya, kecuali dia memberitahukannya” (Hadits Ibnu Majah)
  • Rasulullah bersabda ”Allah mengasihi seseorang yang toleran ketika berdagang, ketika membeli, dan ketika meminta haknya” (Hadits shahih al Bukhari)
  • Dalam kitab Ihya ’Ulumuddin Imam Ghazali, Dikatakan kepada Abdurrahman bin Auf ra, ” Apa yang menyebabkan kamu menjadi kaya?” Dia berkata ”Penyebabnya ada 3. Saya tidak pernah menolak laba yang sedikit, ketika saya diminta untuk menjual hewan ternak saya tidak mengakhirkannya dan saya tidak pernah membeli dengan kredit”. Dan dikatakan bahwa Abdurrahman bin Auf pernah menjual seribu unta, dia tidak mendapatkan laba sedikitpun kecuali tali kekangnya. Dia menjual setiap tali kekangnya seharga 1 dirham, sehingga dia mendapat 1000 dirham, dan dia juga mendapat laba dari memberikan nafkahnya dalam kesehariannya sebanyak 1000 dirham”
  • Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. (QS Al Maa’idah : 1)
  • Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al Baqarah : 282)
  • Diriwayatkan dari Abu Jahifah ra, dia berkata ”Rasulullah melarang untuk memakan hasil dari penjualan anjing, hasil penjualan darah. Nabi juga melarang orang yang membuat tato dan orang yang ditato, memakan riba dan orang yang mewakilkannya, dan beliau melaknat pembuat gambar” (Hadits shahih al Bukhari)
  • Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (QS Al Baqarah : 275)
  • Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS Al Baqarah : 278-279)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: